Sabtu, 14 Maret 2015

Bahasa Tubuh Sebagai Komunikasi Non Verbal PNS

ABSTRAK



Rita Mayani, “ Bahasa Tubuh Sebagai Komunikasi Non Verbal PNS"
Tujuan Penulisan Makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana bahasa tubuh sebagai salah satu komunikasi non Verbal dapat terapkan sebagai salah satu komunikasi yang efektif , terutama bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai aparatur pemerintah. Disamping itu tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk menambah bahan kajian (literature) bagi para Widyaiswara terutama yang mengampu mata pelajaran Komunikasi yang efektif pada Diklat Prajabatan bagi Calon Pegaai Negeri Sipil.
Karya tulis ini menggunakan sumber data dari kepustakaan, terutama dari buku-buku karangan para pakar komunikasi, dan dianalisa secara diskriptif untuk mejawab permasalahan dan tujuan penulisan karya tulis ini.

Dalam Faktanya Penelitian telah menunjukkan bahwa 80% komunikasi antara manusia dilakukan secara non verbal. Area dari komunikasi nonverbal yang sangat relevant dengan komunikasi verbal ialah bahasa tubuh atau kinetic, suara dan artikulasi,pakaian. Bahasa Tubuh merupakan yang paling penting buat seorang pembicara. Dalam praktek berkomunikasi, komuniksi non verbal dan komunikasi verbal dilaksanakan secara terintegrasi

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Keberhasilan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sangat ditentukan kemampuanya dalam berkomunikasi, baik menghadapi pelanggan internal maupun eksternal. Demikian pula seorang Widyaiswara yang memiliki tugas pokok yaitu mendidik, mengajar dan melatih aparatur pemerintah, dalam melaksanakan tugas tersebut peran komunikasi sangat menentukan apakah widyaiswara efektif dalam mewujudkan tugas tersebut. Maka seyogianyalah setiap aparatur pemerintah memiliki kemampuan dalam berkomunikasi, baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal. Untuk itu maka aparatur pemerintah dituntut untuk mempelajari dan memahami komunikasi baik verbal maupun non verbal dan dapat mempraktekkannya dalam pelaksanaan tugas. Menurut Effendi dan Unung Uhyana (1989) komunikasi  dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain, agar diantara pihak tersebut memiliki persepsi yang sama terhadap pesan yang disampaikan . Sementara komunikasi disebut efektif bila mana antara pihak-pihak yang melaksanakan komunikasi memiliki persepsi yang sama terhadap pesan yang disampaikan, selanjutnya si penerima pesan (komunikan) mau melaksanakan pesan tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penyampai pesan (komunikator). Efektifitas komunikasi dalam faktanya penelitian telah menunjukkan bahwa 80% komunikasi antara manusia dilakukan secara non verbal. Banyak interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud nonverbal. Komunikasi nonverbal ialah menyampaikan arti (pesan) yang meliputi ketidakhadiran symbol-simbol suara atau perwujudan suara.Salah satu komunikasi non verbal ialah gerakan tubuh atau perilaku kinetic, kelompok ini meliputi isyarat dan gerakan serta mimic.Cara anda memuntir rambut atau menyentuh hidung, cara anda melipat tangan atau menyilangkan kaki, mengungkapkan banyak hal tentang Anda serta orang lain.Apakah ia menggoda Anda dari seberang ruangan? Jika demikian Anda dapat memberitahu padanya bahwa Anda tertarik dengan menggerai rambut Anda ke belakang atau menggoyangkan kaki. Jika ia mengibaskan jaketnya atau membenarkan mansetnya, ia tertarik pada diri Anda.
Di sebuah wawancara kerja, postur tubuh Anda mengatakan lebih banyak hal tentang Anda dibandingkan surat lamaran atau resume itu sendiri. Cara Anda duduk, tersenyum, dan menggunakan tangan mengatakan banyak hal tentang Anda. Apakah anda bersikap terbuka atau menyembunyikan sesuatu.Dengan mengetahui apa arti bahasa tubuh, anda dapat melihat perasaan seseorang yang sebenarnya, walau pun mereka tidak ingin mengatakannya kepada anda. ‘Bahasa tubuh’ kedengarannya seperti sebuah kontradiksi. Kita biasanya berbicara melalui mulut. Namun penelitian makin menemukan bahwa bahasa tubuh itu benar-benar sebuah bahasa. Mungkin dapat kita bayangkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang terdiri dari gerak isyarat tubuh disengaja dan ‘tanda-tanda’ dari alam bawah sadar yang tidak disadari. Beberapa diantaranya merupakan gerakan-gerakan gugup yang cepat, merupakan tanda-tanda kecil yang hanya dapat ditangkap melalui pengawasan yang cermat. Sebuah gerakan tubuh seperti menjabat tangan seseorang adalah sebuah kata. Sederetan gerakan tubuh yang berkesinambungan yang sering disebut kelompok, adalah kalimat. Contoh seorang pria yang sedang berhadap-hadapan dengan wanita, pandangannya lurus kepada wanita. Tangannya bergerak-gerak mendekati tangan wanita. Tidak ada keraguan dan rahasia dalam kalimat yang ia ucapkan : “Saya suka kamu, dan saya ingin dekat dengan kamu”.
Bahasa tubuh dapat memberi tekanan atau berlawanan dengan apa yang sedang kita ucapkan. Jika anda harus bersikap sopan terhadap seseorang yang tidak anda sukai mungkin anda mengucapkan kata-kata yang benar, namun tubuh anda memberontak. Mungkin anda menjabat tangan mereka sebentar mungkin, atau mencoba menghindar dari tatapan mata. Disini bahasa tubuh berlawanan dengan bahasa ucapan. Anda mengirimkan 2 macam tanda yang berbeda. Bahasa ucapan mengatakan “saya suka kamu”; bahasa tubuh mengatakan “saya tidak suka kamu”. Jika si penerima mengerti bahasa tubuh, ia tidak akan terkelabui.Kecuali, jika anda seorang pemakai bahasa tubuh yang ulung dan mengetahui bagaimana caranya supaya anda terlihat benar berperasaan positif. Hanya seorang yang ahli sekali dalam bahasa tubuh yang dapat melihat tanda-tanda yang sangat kecil yang mengungkapkan perasaan anda yang sesunggguhnya.
Dalam kehidupan anak misalnya, anak-anak belajar beberapa hal tentang bahasa tubuh pada saat mereka tumbuh dan berkembang. Pada umur sepuluh tahun, mereka tahu bahwa jika mereka berbohong dan tidak ingin mengaku, mereka harus mencoba untuk tidak menunduk dan melihat ke bawah atau tidak menutup bibir dengan tangan mereka. Kita semua memiliki beberapa pemahaman tentang bahasa tubuh, kecuali jika kita buta emosi. Anda tidak perlu mempunyai ijazah dalam ilmu psikologi untuk mengetahui bahwa seorang wanita yang memegangi kepalanya dengan tangannya sedang tidak bergembira.Makin akrab situasinya, makin banyak kita membuka diri yang sesungguhnya, makin banyak yang akan diungkapkan melalui bahasa tubuh kita, meskipun sering kali diluar kehendak kita. Kadang, tubuh kita menceritakan kebenaran yang tidak kita ketahui, dan tidak siap kita terima.
Sering bahasa tubuh mengisyaratkan tanda-tanda yang sebenarnya tidak kita inginkan. Mari kita bayangkan pasangan lain yang sedang makan siang. Jane dan John, mereka tidak tampak santai. John telah memegang tangan Jane. Kelihatannya ia sedang mencoba menenteramkan Jane. Namun ia tahu bahwa Jane tidak suka cara menyatakan cinta yang mencolok di depan umum seperti itu. Dan Jane tahu bahwa John mengetahui bahwa ia tidak suka cara seperti itu. Setelah John memegang tangan Jane itulah, Jane dengan marah mengatakan : “saya mencintai kamu”, kalimat itu sekarang sering digunakan secara sinis, yaitu jika seseorang merasa terganggu dan marah.Konteks dan teks dari suatu interaksi biasanya mudah dijelaskan. Subteks sering tidak jelas dan terkait dengan perasaan yang berbelit-belit, gerakannya sendiri sangat sederhana, namun perasaan yang terlibat didalamnya sangat rumit. Dan tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Karena berbelit-belit inilah maka pemahaman bahasa tubuh menjadi sangat menarik.Sudah diterima secara luas bahwa sukses dalam dunia kerja diawal abad 21 terutama dicapai atau melalui orang lain. Jaman manajer otokratis sudah lama berlalu, dan secara rata-rata orang dewasa ini jauh lebih percaya diri dan independent dari pada di jaman dahulu. Bila karyawan tidak suka cara mereka diperlakukan, mereka pindah kerja. Seorang manajer dengan bahasa tubuh yang buruk akan membuat karyawan keluar lebih cepat.
Bila anda sudah cukup lama bekerja, anda mungkin sudah mengetahui bahwa motivasi yang baik dan keterampilan antar pribadi tau keterampilan manusiawi, demikian nama yang dikenal secara informal dianggap sama pentingnya dengan kualifikasi yang dibuktikan dengan sertifikat 30 tahun yang lalu. Keterampilan seperti ini tidak dapat dikuasai tanpa memahami bahasa tubuh.
Keterampilan antar pribadi dahulu dianggap sebagai suatu bonus. Tenaga penjualan pernah mengikuti pelatihan mendasar di bidang ini yang menyangkut mengatasi penolakan yang secara alami berlawanan. Manajer diajari untuk memahami pentingnya manajemen sasaran dan mamajemen waktu, tetapi hanya sedikit sekali waktu yang disisihkan untuk membahas mengenai cara orang bereaksi kalau diberitahu apa yang harus dilakukan, atau ditegur kalau prestasi mereka berada dibawah harapan.Bahkan bila anda secara alami adalah komunikator yang baik dan pendengar yang baik, maka keterampilan anda tidak akan pernah mencapai potensi sepenuhnya kecuali anda memahami bahasa tubuh. Hasil riset secara konsisten menunjukkan bahwa dalam pesan apa pun, separuh arti disampaikan lewat kata yang diucapkan; separuh yang lain dialami dalam bahasa tubuh pembicara. Jadi bila, seperti kita pada umumnya, anda adalah seorang komunikator, kecil kemungkinan anda untuk sukses bila anda tidak mempunyai kesadaran mengenai bahasa tubuh. Bila anda menyadari salah satu manfaat paling besar adalah pengetahuan tentang bahasa tubuh dapat membantu anda untuk memonitor prestasi anda sendiri dan memperbaikinya. Kita dapat merasa luar biasa terhadap diri kita sendiri jika menguasai bahasa tubuh karena bahasa tubuh tidak diajarkan secara rutin di sekolah dan perguruan tinggi. Walaupun sebenarnya dapat diajarkan dengan cukup mudah.
Anda mungkin berpikir bahwa memahami bahasa tubuh hanyalah akal sehat, tetapi anda akan keliru bila bahasa lisan rentan untuk disalah artikan, kedaannya bahkan lebih benar mengenai bahasa yang tidak diucapkan. Banyak sekali jebakan saat menginterpretasikan bahasa tubuh, dan beberapa diantaranya dapat amat menyesatkan anda.Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah mencoba membaca bahasa tubuh secara terisolasi, dan membuat penilaian yang terlalu tergesa-gesa. Misalnya : ada keyakinan yang tersebar luas bahwa bila seseorang yang tersebar luas mereka pasti berbohong; atau bila lengan atau kaki seseorang disilangkan, berarti mereka takut atau gelisah. Menginterpretasikan bahasa tubuh tidak sesederhana itu, dan psikologi amatir seperti ini dapat menimbulkan kebingungan.
Lebih penting dari semuanya jangan mencoba untuk mempelajari sinyal individual. Sebaiknya amati bahasa tubuh dalam arti scenario, sama yang seperti kita lakukan dalam pergaulan sehari-hari, ketika setiap potong bahasa tubuh diuraikan saat berkembang dalam situasi spesifik maka jarang secara terisolasi.Kesalahan umum lain adalah gagal untuk memonitor bahasa tubuh dalam suatu periode waktu. untukmengenali sinyal bahasa tubuh, misalnya marah adalah satu hal, tetapi tidak terlalu banyak manfaatnya kecuali anda dapat juga menentukan sejauh mana kemarahan itu dan perkembangannya. Salah satu dari banyak manfaat mempelajari bahasa tubuh adalah meningkatkan kesadaran anda mengenai diri sendiri dan kesadaran anda mengenai orang lain. Kedaan itu akan membuat semua perjumpaan anda dengan orang lain menjadi lebih menarik dan lebih memberikan hasil.
B.         Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah diuraikan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apa saja yang termauk bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal ?
2. ”Bagaimana bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal ”di terapkan ?

C.        Tujuan Penulisan
1. Untuk mendapatkan informasi   bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal ?
   
2.  Mendapatkan informasi bagaimana bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal diterapkan ?

D.        Manfaat Penulisan

1.  Sebagai bahan bacaan kususnya para PNS dalam mempelajari bahasa tubuh  sebagai komunikasi non verbal

 2. Bagi penulis (sebagai Widyaiswara) pengampu materi komunikasi yang  efektif, bermanfaat dalam mengembangkan materi pembelajaran tentang komunikasi yang efektif itu sendiri



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.        Konsep Dasar Bahasa Tubuh
Menurut David Cohen dalam buku “bahasa tubuh dalam pergaulan” yang menjelaskan tentang bahasa tubuh sebagai bentuk topeng-topeng mengungkapkan bahwa bahasa tubuh juga menyingkapkan topeng-topeng kita. Manusia belajar menggunakan topeng sejak kecil dan banyak diantara kita dapat melakukannya dengan baik. Banyak isayarat-isyarat nonverbal tantang perasaan bersifat sangat halus dan terjadi hanya sekilas. Membacanya seperti mencoba menguraikan pola dari selendang yang dipakai seseorang yang sedang lewat. Anda dapat melakukannya, tapi membutuhkan keahlian dan latihan. Apa yang dapat menerobos topeng yang kita pakai adalah apa yang disebut oleh para ahli psikologi sebagai “isyarat yang bocor”, isyarat yang sebenarnya tidak ingin kita berikan namun tidak dapat terkontrol. Mengatur ekspresi wajah sangat mudah dilakukan. Jika anda tidak ingin tampak sedih, anda dapat berpura-pura. Lebih sulit mengatur nada suara kita atau gerakan tubuh, mereka ini sering “bocor”. Pelajari mereka dan anda akan segera tahu banyak tentang apa yang sedang dipikirkan orang lain. Cara seseorang berbicara mencerminkan kepribadiannya. Beberapa orang bicaranya keras dan tanpa henti; orang lainnya sukar dimengerti dan beberapa sangat diam. David Cohen tidak menyetujui anggapan bahwa orang dengan kepribadian tertentu cenderung memiliki gaya tubuh tertentu yang tidak akan sama dengan orang lain. Beberapa penelitian yang baik tentang kepribadian, menunjukkan kontras antara ekstravert, yang ceria, ramah, cepat, tidak teliti, suka humor, tidak sabar dan memiliki metabolisme yang tinggi dengan introvert yang teliti banyak cemas, lamban, dan kurang kemampuan dalam sosialisasi. Kepribadian yang satu tidak lebih baik dari kepribadian lainnya. Mereka adalah gaya, tapi gaya yang terungkap melalui bahasa tubuh. Dalam hubungan antar pribadi, banyak orang merasa berada dibawah tekanan untuk tidak menunjukkan perasaan mereka. Kita hidup melalui suatu periode perubahan sosial yang kompleks, membuat banyak dari kita merasa lebih aman bersembunyi dibalik kedok.
Dalam kamus komunikasi dari Onong U. Effendy bahwa Kinesic Communication atau komunikasi kial/komunikasi kinesik adalah komunikasi yang dilakukan dengan gerakan anggota tubuh; salah satu jenis komunikasi nonverbal.
Peter Clayton dalam buku “bahasa tubuh dalam pergaulan sehari-hari” mengungkapkan bahwa Apa yang disebut dengan bahasa tubuh ? saya telah mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang tak terhitung banyaknya. Jawaban yang mereka berikan tanpa kecuali sesuatu yang sejalan dengan komunikasi nonverbalyang menurut hemat saya tidak salah sejauh ini. Akan tetapi, jawaban itu tidak benar-benar menjelaskan kebenaran alami dari bahasa tubuh. Selama bertahun-tahun saya berusaha untuk menyingkat pengertian ini menjadi beberapa kalimat sederhana.
Alo Liliweri dalam buku “komunikasi verbal dan nonverbal” menjelaskan bahwa bahasa tubuh adalah gerakan ; tubuh yang merupakan sebagian perilaku nonverbal (termasuk yang anda miliki) dapat disampaikan melalui simbol komunikasi kepada orang lain. Perilaku itu sangat bergantung dari erat tidaknya hubungan dengan orang lain. Dalam bagian ini akan diuraikan komunikasi nonverbal “gerak tubuh” atau yang disebut kinesik.
B.         Sejarah Singkat Tentang Bahasa Tubuh
Selama berabad-abad, penulis-penulis besar seperti Shakespeare, telah mengetahui bahwa sikap dan gerakan tubuh mencerminkan suasana hati. Pada cerita “Malam Kedua-belas”, Malviolo, pelayan Olivia, membuat dirinya konyol dengan mengenakan ikat kaos kaki kuning dan bertingkah laku aneh. Tetapi tidak ada penelitian yang teratur tentang bahasa tubuh sampai tahun 1960-an. Lalu seorang ahli psikologi Amerika Paul Elkman meneliti bagaimana kemampuan kita membaca pesan-pesan tanpa kata dari wajah-wajah orang. Seorang ahli psikologi Ingggris Michael Argyle, dari Universitas Oxford, mempelajari bahasa tubuh jenis lain yaitu gerak isyarat tubuh, sejauh mana kita menjadi akrab dengan seseorang jika kita menyentuh seseorang dan dimana kita melakukannya. Argyle dan Elkman keduanya menekankan bahwa bahasa tubuh adalah sungguh-sungguh sebuah bahasa. Anda tidak dapat melihat suatu gerakan tubuh secara tersendiri. Anda harus mempelajari pola yang utuh tentang gerakan tubuh, sikap tubuh, dan nada dari suara untuk dapat mengerti situasi secara menyeluruh. Sebagaian dari seni membaca bahasa tubuh adalah menempatkan semua tanda didalam “kelompok”, jadi seperti menyusun kata-kata menjadi kalimat yang dapat dimengerti.
BAB III
PEMBAHASAN

Bentuk dan tipe umum dari bahasa tubuh menurut Beliak dan Baker (1981) ada tiga yakni ; kontak mata,  ekspresi wajah, dan gerakan anggota tubuh. Agar jelasnya diuraikan secara singkat sebagai berikut :
A.        Kontak mata
kontak mata juga mengacu pada sesuatu yang disebut dengan gaze yang meliputi suatu keadaan penglihatan secara langsung antar orang (selalu pada wilayah wajah) disaat sedang berbicara. Kontak mata sangat menentukan kebutuhan psikologis dan membantu kita memantau efek komunikasi antar pribadi. Melalui kontak mata anda dapat menceritakan kepada orang lain suatu pesan sehingga orang akan memperhatikan kata demi kata melalui tatapan. Misalnya pandangan yang sayu, cemas, takut, terharu, dapat mewarnai latar belakang psikologis anda. Jumlah dan cara-cara penataan mata berbeda dari seseorang dengan orang yang lainnya, dari budaya yang satu ke budaya lain
Berbagai studi menunjukkan bahwa orang memandang orang lain disaat percakapan sekitar 50-60 persen. Bagi pembicara digunakan 40 persen dann bagi pendengar kira-kira 70 persen penglihatan. Pertanyaannnya kapankah anda suka melihat orang lain ketika anda sedang berbicara ?. mata anda seolah-olah membuat kontak yang semakin besar/awas seperti waktu berdiskusi, lalu saling memberikan reaksi dan seterusnya. Kontak mata sebagai simbol komunikasi nonverbal mempengaruhi perilaku, kepercayaan dalam berkomunikasi. Ingatlah bahwa sejak kontak mata anda dilakukan, orang langsung dapat mengukur sejauh mana kemampuan anda dalam melakukan komunikasi. Barbara Westbrook Eakins dan R. Gene Eakins (1978) dalam Samovar dan Porter (1985) mengemukakan bahwa kaum pria lebih suka memandang/mencuri pandangan terhadap wanita adalah pendapat yang keliru. Laporan penelitian yang dikutipnya agak kontradiktif dengan pandangan klasik yang di anut orang.
Beberapa contoh dibawah ini berkaitan dengan perilaku kontak mata di pelbagai etnik/bangsa di dunia.
Aparat kepolisisan menggunakan bahasa tubuh mata pada para supir di jalanan baik pengemudi motor maupun mobil dapat menjadi sinyal atau pertanda kelengkapan surat-surat yang mereka miliki, jika para pengemudi tidak memiliki surat-surat yang lengkap maka ada kecenderungan memiliki pandangan mata yang berbeda ketika bertemu dengan para aparat kepolisisian dalam suatu operasi di jalan, dan biasanya aparat kepolisisan dapat melihat perbedaan pandangan mata para pengemudi yang merasa bersalah atau tidak bersalah. Begitu pun kontak mata menjadi pertanda bagi para penjahat atau orang-orang yang merasa bersalah dari aspek hukum baik dalam kasus pencurian, perampokan, pembunuhan dan para pelaku kriminal lainnya. Cenderung memiliki kontak mata yang berbeda ketika melihat aparat kepolisian. Walau pun kontak mata ini justru dipelajari oleh para pelaku kriminal untuk dapat menguasai kontak mata secara professional sehinga mampu bertindak wajar dan tidak mencurigakan baik dihadapan para aparat kepolisian maupun para calon korban, sehingga aksi kejahatan atau aksi penangkapan aparat dapat mereka lakukan di setiap kesempatan.
Kesalahan memandang orang lain dapat berakibat fatal. Ketika seorang wanita Jepang dengan seorang pria Amerika, sang wanita harus menunduk tetapi sang pria terus memandang dengan penasaran. Setibanya di asrama mahasiswa (keduanya tinggal bersama di suatu flat mahasiswa), sang pria marah-marah dan mengejek wanita orang yang tidak bersahabat. Sang wanita tersinggung dan menangis histeris. Setelah diselidiki ternyata dalam budaya Jepang hanya wanita kurang baik yang boleh memandang seorang pria di tempat umum, hal demikian tidak terjadi di Amerika.
Anda pun bisa salah sangka, suatu waktu anda duduk di alun-alun kota bandung atau berjalan di pasar senen dikala senja. Banyak wanita berseliweran. Anda mungkin dapat membedakan pandangan wanita P dengan wanita orang baik-baik. Banyak orang beranggapan : mata merupakan kata hati!

Bagi  seorang widyaiswara dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas, kontak mata perlu dilakukan dengan peserta diklat, karena kontak mata yang dilakukan antara widyaiswara dengan peserta diklat dapat dijadikan ukuran apakah diantara kedua pihak terjadi komunikasi yang efektif atau tidak.Apabila seorang widyaiswara dalam berinteraksi dengan pendengarnya tidak melakukan kontak mata, berarti widyaiswara tersebut tidak mengetahui apakah pendengarnya benar memperhatikan pesan yang ia sampaikan, atau sebaliknya. Karena melalui kontak mata widyaiswara dapat memahami apakah pendengar punya minat atau tidak terhadap pesan yang disampaikan, bila peserta diketahui melalui kontak mata tidak lagi memperhatikan apa yang ia sampaikan tentunya widyaiswara bersangkutan tidak bijaksana meneruskan pembelajaran sebelum minat dan perhatian peserta diklat itu kembali di munculkan. Sebab kalau tetap diteruskan pembelajaran maka komunikasi tidak akan efektif

B.        Ekspresi wajah
Ekspresi wajah meliputi pengaruh raut wajah yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan. Wajah setiap orang selalu menyatakan hati dan perasaannya. Wajah ibarat cermin dari pikiran, dan perasaan. Melalui wajah orang juga bisa membaca makna suatu pesan. Pernyataan wajah menandai masalah ketika : (1) ekspresi wajah tidak merupakan tanda perasaan (2) ekspresi wajah yang dinyatakan tidak seluruhnya/tidak secara total merupakan tanda pikiran dan perasaan. Dengan demikian penampilan wajah sangat tergantung pada orang yang menanggapi atau menafsirkannya. Ekspresi wajah dari budaya yang lain memandang berbeda.
Ekspresi wajah juga dapat kita lihat ketika kita memandang seseorang yang dianggap sebagai orang yang polos/lugu atau dianggap kejam/dingin. hal ini didasari oleh ada sebuah ekspresi wajah yang nampak pada orang yang bersangkutan tidak menunjukkan sebuah perubahan seperti yang dilakukan oleh orang lain ketika mendengar atau mengetahui suatu peristiwa baik kesedihan maupun kegembiraan, keanehan atau kelayakan. Bagi seorang widyaiswara ekspresi wajah yang sesuai dengan pesan yang disampaikan kepada peserta diklat dalam proses belajar mengajar akan lebih memberikan keyakinan kepada peserta diklat dalam menerima pesan tersebut. Disamping itu pesan verbal yang diikuti dengan ekspresi wajah akan lebih menarik (menarik minat) peserta diklat. Sebaliknya pesan verbal yang disampaikan tidak diikuti dengan ekspresi wajah atau ekspresi wajah tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan maka akan membuat keyakinan dan minat peserta diklat terhadap pesan yang disampaikan widyaiswara akan menjadi sebaliknya.

C.        Gestures
Gestures merupakan bentuk perilaku nonverbal pada gerakan tangan, bahu, jari­jari. Kita sering menggunakan gerakan anggota tubuh secara sadar maupun tidak sadar untuk menekankan suatu pesan. Ketika anda berkata : pohon itu tinggi, atau rumahnya dekat; maka anda pasti menggerakkan tangan untuk menggambarkan deskripsi verbalnya. Pada saat anda mengatakan : letakkan barang itu! Lihat pada saya! Maka yang bergerak adalah telunjuk yang menunjukkan arah. Ternyata manusia mempunyai banyak cara dan bervariasi dalam menggerakkan tubuh dan angota tubuhnya ketika mereka sedang berbicara. Mereka yang cacat bahkan berkomunikasi hanya dengan tangan saja.
Gestures juga gerakan yang dapat membantu pesan yang disampaikan menjadi efektif, bagi widyaiswara dalam berkomunikasi dengan peserta diklat perlu memperhatikan dan menerapkan gestures, dia tidak cukup hanya menyampaikan pesan verbal saja tanpa diikuti dengan gerakan tangan, bahu maupun jari, tetapi gerakan yang dilakukan harus sesuai dengan pesan verbal. Misalnya kalau kita menjelaskan kalimat pohon kelapa itu tinggi, maka tangan kita kita angkat keatas, demikian sebaliknya untuk menyampaikan pesan sebaliknya sesuatu yang rendah, maka tangan kita seyogianya kita arahkan kebawah. Dengan demikian pesan verbal dan pesan non verbalnya sejalan dan ini dapat meyakinkan dan menarik minat pendengar.
D.           Penggunaan Gerakan Tubuh
Mungkin anda juga perlu mengetahui dan mengerti bagaimana gerak tubuh dipergunakan dalam komunikasi nonverbal. Tanpa diobservasi sekalipun, ternyata setiap gerakan tubuh mengkomunikasikan fungsi tertentu. Ekman dan Friesen mengkategorikannya sebagai emblem, illustrator, affect display, regulator, adaptor.
4.1. Emblem
Emblem merupakan terjemahan pesan nonverbal yang melukiskan suatu makna bagi suatu kelompok sosial. Tanda V menunjukkan suatu tanda kekuatan dan kemenangan yang biasanya dipakai dalam kampanye presiden di Amerika Serikat. Di Palistina hal itu menjadi symbol perjuangan rakyat Palistina dalam melawan tentara Israel. Atau di Indonesia dipakai untuk menunjukkan kemenangan Golkar. Emblem harus dipelajari melalui proses yang mungkin saja merupakan bentuk lain dari arbitrary, iconic dalam perlambangan saja
4.2. Ilustrator
Ilustrator merupakan tanda-tanda nonverbal dalam komunikasi. Tanda ini merupakan gerakan anggota tubuh yang menjelaskan atau menunjukkan contoh sesuatu. Seorang ibu melukiskan bahwa tyani, putrinya yang sekolah di SMA Negeri di jalan Gotong Royong Bandar Lampung, mempunyai tinggi badan tertentu. Sang ibu menaik turunkan tangannya dari permukaan tanah.
Ada 8 bentuk ilustrator yang perlu diperhatikan :
4.2.1.  Batons, merupakan suatu gerakan yang menunjukkan suatu tekanan tertentu pada suatu pesan yang disampaikan.
4.2.2.  Ideographs, adalah gerakan yang membuat peta atau mengarahkan pikiran. Dengan demikian penampilan wajah sangat bergantung terhadap orang yang menanggapi atau menafsirkannya. Ekspresi wajah dari budaya yang satu dengan budaya yang alain memang berbeda.
4.2.3.  Deitic Movements, adalah gerakan untuk menunjukan sesuatu.
4.2.4.  Apatial Movements, adalah gerakan yang melukiskan besar atau kecilnya ruangan
4.2.5.  Kinetographs, adalah gerakan yang menggambarkan tindakan fisik
4.2.6. Rhytmic Movements, adalah gerakan yang menunjukkan suatu irama tertentu
4.2.7. Pictographs, adalah gerakan yang menggambarkan sesuatu di udara
4.2.8. Emblematic Movements, adalah gerakan yang menggambarkan suatu pernyataan verbal tertentu. Batasan antara setiap bentuk illustrator seperti diuraikan di atas biasanya kurang jelas, hal ini disebabkan karena seseorang tidaklah selalu menggunakan hanya satu bentuk tetapi beberapa bentuk nonverbal sekaligus dalam berkomunikasi.
4.3. Adaptor
Adaptor merupakan gerakan anggota tubuh yang bersifat spesifik. Pada mulanya gerakan ini berfungsi untuk menyebarkan atau membagi ketegangan anggota tubuh, misalnya meliuk-liukan tubuh, memulas tubuh, menggaruk kepala, loncatan kaki.Ada beberapa jenis adaptor yaitu : (a) self adaptor misalnya menggaruk kepala untuk menunjukkan kebingungan; (b) alter adaptors; geraka nadaptor yang diarahkan kepada orang lain, mengusap-usao kepala orang lain sebagai tanda kasih sayang; (c) obyek adaptor; adalah gerakan adaptor yang diarahkan kepada obyek tertentu.
Gerakan adaptor sebenarnya gerakan seseorang yang menggambarkan perilaku ikonik dan intrinsic yang kadang-kadang secara sadar dilakukan terhadap dirinya sendiri; kecuali untuk orang lain maka adaptor bertujuan menumbuhkan interaksi dan komunikasi.
4.4. Regulator
Regulator adalah gerakan yang berfungsi mengarahkan, mengawasi, mengkoordinasi interaksi dnegan seksama. Sebagai contoh, kita menggunkan kontak mata sebagai tanda untuk memperhatikan orang lain yang sedang berbicar dan mendengarkan orang lain.
Regulator merupakan tanda utama yang bersifat interaktif, bentuknya ikonik dan intrinsic.
4.5. Affect Display
Prilaku affect display selalu menggambarkan perasaan dan emosi. Wajah merupaka n media yang paling digunakan untuk menunjukkan reaksi terhadap pesan yang direspon. Bentuk affect display bersifat intrinsic yang digunaka nuntuk fungsi interaktif dan informative.
Beberapa contoh perilaku gerakan anggota tubuh dapat terlihat sebagai berikut. Kalau di Amerika atau diEropa continental anda boleh menggunakan tanda V sebagai lambang kemenangan (Victory) yang dipopulerkan Winston Churchill maka di Afrika Selatan V tidak boleh anda gunakan. Di Afrika Selatan pun anda diharapkan tidak memasukkan ibu jari diantara telunjuk dan jari tengah. Isyarat-isyarat tangan sebaiknya dihindari jika anda bertemu dengan orang argentina; di Australia ibu jari yang diacungkan merupakan sisyarat yang kasar, dala mpertemuan dengan orang asutralia berdirilah tegak dan gunak ntangan secar asederhana.
Di Austria sebaiknya anda mengjhindari berbicar dengan tangan disaku; sebaiknya di Belanda anda boleh melambaikan tangan bagi orang yang jauh. Yang tidak boleh dilakukan di Belanda adalah mengunyah permen karet atau berdiri dengan tangan di saku tidaklah sopan (tanda sombong dan angkuh).
Di Chili waktu bercakap sambil duduk merupakan terbaik, namun hindari isyarat tangan karena hanya pelayan restoran yang dipanggil dengan tangan. Tidak hanya tangan di kolombia jangan bertelanjang kaki apalagi menaruh kaki di atas meubel dianggap kurang ajar, karena di kolombia orang memanggil orang lain dengan melembaikan jari­-jari tangan atau seluruh tangan dan telapaknya mengahdap ke bawah. Sama dengan di Afrika Selatan maka di Costarica jangan mengepalkan tangan dengan ibu jari tersembul diantara telunjuk dan jari tengah. Pada waktu makan kedua tangan harus ada di atas meja.
Di Elsavador jangan menunjuk seseorang dengan jari tangan atau mengarahkan kaki kearah orang lain. Hanya teman akrab yang dipanggil dengan tangan. Di Inggris isyarat berlebihan seperti menepuk punggung atau merangkul bahu dengan lengan harus dihindari.
Argyle dan mitra kerjanya menyatakan bahwa ketika orang bertemu, berbicara atau melakukan apa saja secara bersama-sama, maka tingkah laku ini harus dilihat sebagai “interaksi”. Ini menekankan betapa banyaknya faktor-faktor yang berbeda yang berperan di dalam hubungan antara orang-orang. Sebuah cara yang bagus untuk meneliti sebuah interaksi adalah menganalisis tiga unsur yang ada didalamnya yaitu konteks, teks dan subteks.
Konteks adalah situasi umum dimana pertemuan atau pertukaran antar manusia tersebut terjadi. Pergi makan siang adalah suatu peristiwa yang berbeda tergantung dengan siapa anda pergi makan siang. Makan siang singkat dengan teman sekerja di kantor atau makan siang dengan kekasih atau makan siang dengan calon kekasih, akan memiliki dinamika yang berbeda.Lain kali anda pergi ke restoran, cobalah gunakan pengetahuan anda tentang bahasa tubuh untuk menduga makan siang macam apa yang sedang dialami oleh pasangan di meja sebelah sana. Misalnya, perhatikan jarak antara mereka. Mungkin salah seorang diantaranya memegang buku catatan atau “alat kerja” lainnya pada meja makan untuk menunjukkan bahwa mereka kaum professional. Tetapi apakah mereka bergeser mendekat?.
Teks adalah kata-kata yang benar-benar diucapkan pada pertemuan. Kata-kata bukanlah segala-galanya. Jika anda hanya diberi catatan tentang apa yang diucapkan pada setiap interaksi, itu tidak akan memberikan kepada anda pemahaman yang penuh tentang apa yang terjadi. Bayangkan misalnya sebuah pasangan sedang makan siang. Catatan dua baris dari percakapan mereka yang anda dapatkan adalah :
Wanita : Saya mencintai kamu.
Pria : Sungguhkah?
Anda tidak mengetahui dari catatan tersebut apakah kalimat “Saya mencintai kamu” adalah pernyataan gairah yang tiba-tiba, kebenaran yang menyenangkan namun tidak mengherankan, atau sebuah sindiran karena wanita tersebut sedang marah. Kata-katanya sama : artinya berbeda.
Subteks terdiri atas intonasi dan bahasa tubuh yang digunakan. Yang seharusnya menyampaikan informasi yang serupa tentang kehangatan dan keintiman dari pertemuan tersebut. Orang tidak hanya tergantung pada kata-kata untuk mendapatkan sebuah gambaran tentang interaksi. Nada suara dan isyarat tanpa kata mempunyai lebih dari setengah bukti yang mendasari penilaian mereka tentang situasi. Jika isyarat tanpa kata berlawanan dengan apa yang diucapkan, orang akan cemas dan berpikir bahwa mereka mungkin sedang dikelabui.




















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


A.            Kesimpulan

1.    Dalam Faktanya Penelitian telah menunjukkan bahwa 80% komunikasi antara manusia dilakukan secara non verbal. Banyak interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud nonverbal. Komunikasi nonverbal ialah menyampaikan arti (pesan) yang meliputi ketidakhadiran symbol-simbol suara atau perwujudan suara.Salah satu komunikasi non verbal ialah gerakan tubuh atau perilaku kinetic, kelompok ini meliputi isyarat dan gerakan serta mimic.
2.    Dalam prakteknya komunikasi non verbal dengan komunikasi verbal saling mendukung , komunikasi verbal perlu didukung dengan bahasa tubuh (komunikasi non verbal) agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan dimengerti, sehingga proses komunikasi .Demikian sebaliknya.
3.    Dalam banyak hal bahasa tubuh antara suatu negara dengan negara lain, maupun atar suku dalam suatu negara bisa berbeda sesuai dengan budaya masyarakatnya masing-masing

B.            Saran

1.    Kepada Aparatur Pemerintah khususnya para Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk mempelajari dan memahami komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal , dan dapat menerapkannya dalam praktek pelaksanaan tugas dan fungsi pelayan masyarakat.
2.    Kepada para widyaiswara yang bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar dikelas, untuk mewujudkan efektifitas pembelajaran maka perlu  memahami dan menerapkan komunikasi verbal maupun non verbal secara terintegrasi




DAFTAR PUSTAKA

Blake, Reed H. Haroldsen, Edwin O. 2003, Taksonomi Konsep Komunikasi, Surabaya, Papyrus
Clayton, Peter, 2003, Bahasa Tubuh dalam Pergaulan Sehari-hari. London, Part of Octopus Publishing Group Ltd.
Cohen, David, 1992, Bahasa Tubuh dalam Pergaulan, London, Sheldon Press, SPCK. Effendy, Onong U. 1989, Kamus Komunikasi, Bandung, Mandar Maju
Lim Nan Sen, Irwin. 1987, Bahasa Tubuh/Body Talk, Batam, Inter Aksara
Liliweri, Alo. 1994, Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

STRATEGI PENGELOLAAN DIKLAT DALAM PENGEMBANGAN KUALITAS SDM APARATUR DIKLAT PROVINSI LAMPUNG

KATA PENGANTAR
Tema yang diangkat dalam makalah ini adalah tentang Strategi Pengelolaan Diklat dalam upaya Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia’. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Pendidikan dan pelatihan  adalah salah satu instrumen yang dapat meningkatkan pengembangan SDM, hal ini  dirasa amat penting keberadaannya, mengingat masih  rendahnya mutu SDM kita dibandingkan dengan negara –negara lain. Di tengah-tengah berbagai sumber kekuatan atau berbagai jenis potensi untuk program yang mengandung potensi untuk menimbulkan perubahan organisasi, maka isu kritisnya adalah seberapa kuat (stimulan) yang bersumber dari optimalisasi pengelolaan dan program pendidikan dan pelatihan mampu berperan sebagai “pemicu” dalam perubahan organisasi atau pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Kebijakan tentang prioritas pembangunan Indonesia mengorientasikan pada : “Pembangunan sumber daya manusia agar makin meningkat kualitasnya sehingga dapat mendukung pembangunan  melalui peningkatan pengelolaan/penyelenggaraan Diklat aparatur yang makin bermutu, disertai peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian yang dibutuhkan berbagai bidang pembangunan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi yang makin mantap”.
Demikian makalah yang penulis susun, semoga dapat melengkapi bahan kajian yang telah disusun oleh para penulis lainnya.

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar

i
Daftar Isi

ii
Pendahuluan

1
Analisis SWOT dalam pengelolaan diklat

5
Kualifikasi Diklat yang diperlukan masa depan

8
Strategi pengelolaan Diklat dalam pengembangan kualitas SDM

9
Performa Widyaiswara

10
Kesimpulan

11
Daftar pustaka

12










STRATEGI  PENGELOLAAN DIKLAT DALAM
PENGEMBANGAN  KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA
1.1.            PENDAHULUAN
1.2.      Latar Belakang
Dalam ersa globalisasi sekarang ini,  perkembangann sains dan teknologi dalam berbagai kehidupan semakin meningkat, terutama karena desakan tuntutan masyarakat baik di level lokal,nasonal maupun global. Untuk menyesuaikan dan mengantisipasi pengaruh tersebut diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Terlebih sebentar lagi Asian Economi Community  (AEC 2015) era pasar bebas sudah didepan mata.
Berkaitan dengan hal tersebut, pembangunan nasional Indonesia saat inipun memerlukan dukungan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Personil yang telah ada sebagian besar masih belum mampu menyelesaikan pekerjaan pada jenjangnya masing-masing. Oleh sebab itu sasaran umum Pembangunan Jangka Panjang Kedua untuk menciptakan kualitas manusia dan kualitas masyarakat merupakan keputusan strategis yang seyogayanya diimplementasikan dalam berbagai sektor Pemerintahan.
Pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya terpusat pada kegiatan seleksi, penempatan, pengupahan, pelatihan, transfer, promosi serta berbagai tindakan lainnya, yang fokusnya adalah pada kepentingan organisasi kerja. Tugas utama dari pengelolaan sumber daya seringkali hanya mengusahakan agar personil dapat bekerja secara efektif. Perhatian yang terlampau terpusat pada kepentingan organisasi kerja cenderung disertai pengabaian hak-hak mereka untuk diperlakukan secara manusiawi. Strategi pembangunan yang manusiawi, bukan saja memperhitungkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, dikenal dengan istilah strategi pengembangan sumber daya manusia atau human resources development. Tapi dalam artian yang luas pengembangan sumber daya manusia terutama meliputi pendidikan dan pelatihan,
Ciri yang konkrit dari program pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan mutu unjuk kerja personil selalu berkembang, karena kebutuhan organisasi kerja dan masyarakat selalu berubah. Kekuatan potensial yang dapat menimbulkan perubahan adalah yang saling berkaitan. Namun kegagalan bisa terjadi manakala saling tumbang tindih yang satu dengan yang lain, maka mungkin saja program pendidikan dan pelatihasn merupakan salah satu bentuk secara sengaja, tidak mampu menimbulkan perubahan yang substansial dalam rangka suatu rekayasa.
Upaya perbaikan kurikulum diklat pola baru  memang sudah dimulai hanya masalahnya bagaiamaan meminimalisasi masa transisi , sehingga program diklat tetap berlangsung tanpa ada masalah seperti penundaan satu tahun lebih  empat angkatan diklat pimpinan tingkat tiga. Karena kita gagal mengantisipasi perubahan
Penelaahan seperti ini adalah tidak memadai apabila analisisnya terbatas pada efisiensi dan efektivitas internal sebagai sebuah program dengan sistem tertutup. Persoalan akan terungkap lebih jelas, jika dianalisis pula faktor eksternal, terutama faktor organisasi kerja dalam mendayagunakan personil yang telah melalui proses pendidikan dan pelatihan.
Di tengah-tengah berbagai sumber kekuatan atau berbagai jenis potensi untuk program yang mengandung potensi untuk menimbulkan perubahan organisasi, maka isu kritisnya adalah  impuls yang bersumber dari pengelolaan dan program pendidikan dan pelatihan  sangat berperan sebagai “pemicu” dalam peningkatan sumber daya aparatur.
1.3.      Tujuan
Tujuan Penulisan adalah Memeberikan masukan bagi pengelola Lembaga DIKLAT dalam upaya peningkatan SDM aparatur
1.4.      Masalah
Pengelolaan Diklat Belum Optimal
           

II.  PEMBAHASAN
2.1 ANALISIS SWOT DALAM PENGELOLAAN DIKLAT
  Pengelolaan Diklat dalam rangka pengembangan kualitas SDM banyak faktor yang mempengaruhi terhadap keberhasilan maupun kegagalan dalam meningkatkan kinerja  organisasi. Berbagai analisis yang digunakan dimaksudkan untuk melakukan telaah terhadap berbagai situasi atau keadaan lingkungan Diklat baik lingkungan internal maupun eksternal. Salah satu instrumen penting mengantisiapsi situasi dan kondisi perlu menggunakan analisis SWOT seperti yang ditegaskan oleh Hunger dan Wheelen, “The factor are most importance to the corporation’s future are refered to as strategic factors and summarized with the acronym S.W.O.T, standing for Strength,Weaknesses, Oppotunities, and Threats (Hunger dan Wheelen, 1993: 12).
Analisis SWOT mengembangkan strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), oppotunities (kesempatan), dan threats (ancaman). Pendekatan ini berusaha mengembangkan kekuatan¬kekuatan dan kelemahan-kelemahan internal organisasi (Looking In), dengan memperhatikan kesempatan-kesempatan dan ancaman¬ancaman yang ada dari lingkungan eksternal (Looking Out). Dalam makalah ini dibicarakan khusus yang berkenaan dengan Pengelolaan Diklat Aparatur dalam rangka pengembangan sumber Daya Manusia di Lingkungan Pemerintahan. Komponen tersebut akan dibahas berikut ini satu per satu.
2.1.1. Kekuatan ( Strength )
Faktor yang menjadi kekuatan dalam mengelola  Diklat sebagai lembaga pengembangan dan pembinaan SDM adalah setiap kebijakan yang diputuskan pemerintah dalam hal ini Lembaga Administrasi Negara RI ( LAN RI) No. 10, 11,12,13 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Diklat Pola Baru , maupun UU no 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sinpil Negara, dan Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara sebagai pedoman bagi pada pelaksana Diklat . serta Peraturan Kepala LAN RI No 20/2013  tentang Standar Biaya Umum Pendidikan dan Pelatihan dan peraturan lain yang terkait.
Prioritas pembangunan yang berkaiktan dengan SDM adalah bahwa: “Pembangunan sumber daya manusia agar makin meningkat kualitasnya sehingga dapat mendukung pembangunan  melalui peningkatan produktivitas dengan pendidikan nasional yang makin merata dan bermutu, disertai peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian yang            dibutuhkan berbagaibidang pembangunan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi yang makin mantap”.
Di Indonesia telah diadakan berbagai pendidikan dan pelatihan dari berbagai bidang atau profesi dengan maksud meningkatkan ketrampilan, pengetahuan dan profesionalisme pegawai agar diperoleh kinerja yang optimal.
Mutu unjuk kerja personil setelah bertugas kembali menunjukkan kemampuan menyelesaikan tugas dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi. Dengan demikian kita telah memiliki kekuatan¬kekuatan berupa peraturan pendukung, sejumlah personil yang telah dilatih, dan ketrampilan kompetitif yang baik. Dan tersedianya sejumlah calon  peserta diklat  SDM) yang siap dilatih.
2.1.2. Kelemahan ( weaknesses)
Dalam pengelolaan Diklat sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pembinaan Aparatur Negara masih ditemui sistem manajemen yang belum efisien dan efektif. Di antara kelemahan atau kendala yang dihadapi (U. Husna, 1995) adalah:
1)      Mutasi/rotasi personil terlalu sering
2)      Penilaian peserta dalam proses belajar maupun penyelenggaraan diklat belum dimanfaatkan
3)       fasilitas dalam  pelayanan kepada learners terlebih-lebih pada saat peralatan terbatas belum  maksimal.

2.1.3. Kesempatan ( opportunities )
- .Tersedianya program-program diklat oleh lembaga pemerintah maupun swasta dalam upaya meningkatkan pengetahuan baik berupa program Training of trainer (TOT)  bagi widyaiswara, Training of fasilitator  (TOF ),  Manajem,en of  training ( MOT) bagi pengelola
-. Perkembagan dunia semakin terbuka yang memerlukan kepekaan bagaimana memamfaatkan berbagai peluang yang ada. Ada sebuah pandangan yang menyatakan bahwa peluang yang terbuka tidak memiliki fungsi apa-apa tanpa dapat memanfaatkannya secara pro aktif. Kesempatan-kesempatan yang ada dapat dipetik dari ekspansi global adalah bagaimana kita mampu  mengakses berbagai informasi dunia yang dapat membantu mengembangkan SDM kita.
Berbagai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan mutu pengelolaan Diklat , baik dalam bentuk pendidikan,pelatihan, seminar ,workshop dan benchmark  baik yang diselenggrakan lembaga pemerintah maupun non pemerintah memberi ruang gerak bagi setiap aparat maupun manajer untuk terus dapat meningkatkanb kualitas` sumber daya manusia pengelolaan Diklat.  Kemampuan SDM kita dalam penguasaan Iptek memberikan kesempatan untuk merebut berbagai kesempatan. Bahkan lulusan SDM kita dari luar negeri dan dalam negeri memberikan sponsor pendidikan dalam peningkatan mutu SDM.
2.1.4. Ancaman ( threats )
- Mekanisme pencairan anggaran diklat dari instansi pengirim masih sering terjadi kendala akibat perubahan peraturan dimana biaya yang dikirim dari instansi peserta dari berbagai kabupaten kota harus lebih dulu masuk ke kas daerah sebelum ke lembaga diklat, sehingga waktu dibutuhkan lebih lama serta administrasi tidak sederhana.
-Dalam beberapa tahun belakangan ini tidak sedikit calon peserta diklat lebih memilih mengikuti diklat di provinsi lain, antara lain Jogyakarta, Bandung, Banten dll karena administrasi lebih cepat.
Disamping itu, yang juga maenjadi tantangan bagi paengeloka diklat adalah adanya persepsi umum bahwa mengikuti diklat di lembaga diklat hanyalah formalitas belaka sekedar mendapat sertifikat sebagai syarat kepegawain.

2.2       KUALIFIKASI DIKLAT  YANG DIPERLUKAN MASA DEPAN
Tuntutan kebutuhan Organisasi yang akan datang ditandai dengan dominasi teknologi komunikasi, sebagian besar pekerjaan Pegawai Negeri Sipil terletak pada sektor jasa dan informasi. Informasi merupakan kekuatan dan kekuasaan pada zaman pasca modern. Dunia sedang bergulat dalam masa transisi menuju Globaliasi Disinilah Sebuah lembaga Pendidikan dan Latihan berperan menyiapkan  tenga aparatur yang profsional.
Teknologi komunikasi menghilangkan batas ruang dan waktu. Peristiwa yang terjadi di seluruh dunia mempengaruhi reaksi kita. Kita ikut terharu oleh mayat-mayat yang tertimpa bencana di belahan bumi yang lain. Jaringan telekomunikasi telepon, telek, faksimili, radio, televisi, komunikasi (gabungan komputer dan telekomunikasi), international network (internet) secara eksponensial memperbanyak frekuensi kontak kita. Lembaga Diklat harus menyesuaiakan dengan perubahan.
Seorang Aparatur  dikatakan profesional secara psikologis bila dapat memberikan reaksi yang tepat pada Organisasi dimana ia berada, bila ia “well adjusted”. Kemampuan beradaptasi memberikan kesan bahwa ia mampu memahami dan mengendalikan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan/organisasi. Ia memiliki ketrampilan dan memperlihatkan unjuk kerja yang optimal. Mutu unjuk kerja yang diharapkan adalah tercapainya tingkat kematangan dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada personil.
Hersey dan Blanchard (1980:162) mengemukakan variasi kematangan seseorang ditinjau dari tanggung jawab sebagai berikut:
(1)        individuals who are neither willing nor able to take responsibility.
(2)        individuals who are willing but not able to take responsebility
(3)        individuals who are able but not willing to take responsibility, and
(4)        individuals who are able to take responsibility.
Jadi tingkat keberhasilan pengelolaan dan program Diklat bisa dicirikan peningkatan pelayanan aparatur yang memperlihatkan mutu unjuk kerja yang tinggi.










2.3.      STRATEGI PENGELOLAAN DIKLAT DALAM PENGEMBANGAN  KUALITAS SDM.
Untuk pembinaan serta pengembangan sumber daya manusia diperlukan suatu strategi tertentu, sehingga hasil yang diharapkan bisa tercapai. Henry Mintzberg yang menjelaskan bahwa, A strategy is the pattern or plan that integrates an organization’s gloals, policies, and action sequences into a cohesive whole. (Henry Mintzberg, 1982:5). Farky Gaffar menegaskan bahwa strategi adalah mekanisme organisasi yang menjabarkan visi secara operasional dan menterjemahkan kebijaksanaan dalam bentuk tindakan nyata. Strategi adalah cara yang tepat untuk melaksanakan kebijakan (1994:7).
Strategi dalam mengelola diklat  profesional  dalam manejemen adalah sebagai berikut:
-2.3.1 Optimalisasi pengelolaan diklat pola baru dgn meningkatkan    pengetahuan penyelenggara dan performa widyaiswara. Salah satu kegiatan dalam pengkajian ini adalah mengkaji mutu unjuk kerja personil. Agar perencanaan pendidikan dan pelatihan mencapai sasaran, maka organisasi pemakai perlu mengkaji mutu unjuk kerja personil di lingkungannya secara komprehensif.
Daniel L. Stufflebeam dkk (1985:6-7) mengemukakan beberapa definisi kebutuhan dalam mengkaji kebutuhan adalah sebagai berikut:  kebutuhan akan pendidikan dan pelatihan bagi pengelola dan widyaiswara    Discrepancy view: A need is discrepancy between desired performance and observed or predicted performance”. Democratic view: A need is a charge desired by a mayority of some referance group. Analytic View: A need is direction in wich improvement can be predicted to accur, given information about current status. Diagnostic view: A need is something who absence or defiency proves harmfull.
Kebutuhan akan pendidikan dan pelatihan bukan hanya dilakukan secara kuantitatif tapi perlu dilakukan secara komprehensif yakni dengan mengkaji dan menginventarisasi mutu unjuk kerja personil yang ada sekarang dengan yang seharusnya untuk mampu menyelesaikan pekerjaan. Performa Widyaiswara
Tantangan dalam pengembangan program dan pelaksanaan kurikulum adalah faktor pengajar (/Widyaiswara/Insstruktur, panitia, dan sistem organisasi. Dalam kondisi seperti ini dituntut tanggungjawab pimpinan sebagai perancang program. “In dedigning profesional development programs for those responsible for instructions, instructional leaders should address the technical skills needed to develop and implement an outcome-ased instructional system...” (Kathleen A. Fitzpatrick, 1995:127).
Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa kurikulum perlu diupayakan untuk dihubungkan dengan tugas personil di lapangan yang menyangkut berbagai ketrampilan. Keterhubungan itu memang perlu diperhatikan dalam merancang kurikulum. Substansi Kurikulum perlu menyentuh seluruh kebutuhan organisasi dan pertumbuhan kepribadian peserta. Jika dilihat dari materi kurikulum, agar peserta mengalami perubahan yang mendasar sebagai aparat pemerintah, maka kurikulum seyogyanya secara substansi memuat tentang: tecnical skill, conceptual skill, human skill, political skill, dan personal growth.
Ketrampilan teknis (technical skill) yaitu kemampuan untuk menggunakan alat-alat, prosedur dan teknik dari suatu bidang kegiatan tertentu. Ketrampilan manusiawi (human skill) yaitu kemampuan untuk bekerja dengan orang lain, memahami dan merancang serta mendorong orang lain. Orang lain itu termasuk bawahan.
Ketrampilan konseptual (conceptual skill) adalah kemampuan mengkoordinasi dan mengintegrasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi sehingga organisasi dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh.
Ketrampilan politis (Political skill) dimaksudkan adalah ketrampilan yang mampu memperoleh kekuatan untuk mencapai tujuan organisasi. Ketrampilan politis termasuk menentukan hubungan yang benar dan mempengaruhi orang yang benar. Ketrampilan politis termasuk memenangkan pengaruh dari orang lain, merebut kekuatan ataupun mempertahankan kekuatan. Ketrampilan  ini memungkinkan seorang untuk  terus mengembangkan kariernya. “Recently, Pfeffer (1989) suggested that a political focus may be an important, yet overlook. persfective in understanding career success”. (Timothy A. Judge, 1994:44).
Pertumbuhan kepribadian (personal growth) diharapkan tumbuh sikap yang positif terhadap keseluruhan tugas pengabdiannya, dan kedewasaan bertindak. Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang pemimpin. Penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi stafnya.Peserta sebagai input diasumsikan sudah memiliki
(K) Knowledge: Pengetahuan, (S) Skill: Ketrampilan, dan (A) Atitude: Sikap. Setelah selesai mengikuti pendidikan diharapkan lebih menekankan pada perubahan Atitude (Sikap), setelah itu Skill (Ketrampilan), dan terakhir memiliki knowledge (pengetahuan). Upaya untuk menguasai KSA menjadi ASK tidak hanya dalam semboyan tapi diwujudkan dalam setiap penyampaian aspek kurikulum, dengan terintegratif dalam setiap proses belajar mengajar. Aspek tersebut memang tidak terlihat secara eksplisit dalam kurikulum, aspek tersebut seakan-akan tersembunyi di dalam setiap piranti, dan nyata hingga tidak perlu penyampaian secara monolitik.
Performance instruktur / Widyaiswara   mencakup aspek-aspek:
a). Kemampuan profesional, b) Kemampuan sosial, c)Kemampuan personal. Ketiga standar umum ini sering dijabarkan sebagai berikut: (Johnson, 1980). Kemampuan profesional seorang pelatih atau instruktur meliputi: (1) Penguasaan materi pelajaran yang terdiri dari bahan yang akan diajarkan, dan konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkan itu: (2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; (3) Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.Kemampuan sosial menyangkut kemampuan menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai instruktur. Kemampuan personal (pribadi) mencakup: (1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai seorang pelatih beserta unsur¬unsurnya: (2) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang instruktur: (3) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya panutan dan teladan bagi peserta latihan.Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa profesi instruktur perlu mendapat pengakuan dan perlindungan hukum. Sehingga tidak semua orang mempunyai peluang untuk tampil menyelenggarakan proses belajar mengajar.Metode yang dipergunakan Widyaiswara dalam melaksanakan proses belajar mengajar dalam persepsi peserta seyogyanya dapat.membangkitkan keakraban emosional dan memberikan kepercayaan intelektual.
2.3.2. Memanfaatkan tenaga diklat yang berpengalaman
Berikutnya strategi yang akan memberi efek positif adalah bagaimana pimpinan diklat memanfaatkan sebesar-besar sumber daya manusia yang berpengalaman dan tentu akan lebih baiklagi personil yang mampu mengelola program tidak lagi secara manual. Tenaga seperti ini cukup memadai di lembaga diklat provinsi lampung tapi hanya karena perbedaan pendapat  yang tidak terselesaikan, mereka yang cukup terampil kurang dimanfaaatkan bahkan dimutasi
2.3.3. Mutasi pegawai
Disamping hal tersebut diatas, saatr ini sudah menjadi hal yang lumrah seseorang apakah staf atau pejabat, mengalami dinamika yang rumit dalam hal mutasi. Hal ini bisa dimaklumi jika landasanya adalah penyegaran, tetapi yang terjadi belakanagan ini sudah frekwensi dan intensitasnya meningkat tajam, bahkan cenderung  mempengaaruhi kinerja pegawai. Untuk mengatasi hal demikian ini pengelola diklat hendaknya merancang inseminasi diklattiham   atau pelakantor sendiri bagi tenaga/pejabat yang baru dimutasi sehingga program diklat tidak terkendala.
2.3.4.Evaluasi.
Memanfaatkan data hasil penilaian peserta dalam monev   (Kematangan dlm persiapan,  pelaksanaan) diklat dan     melakukan evaluasi pascadiklat secara berkala.
Persiapan dan Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan
Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan memerlukan persiapan. Di antara persiapan itu adalah membuat kebijakan pertemuandengan penatar, membuat jadwal, mempersiapkan fasilitas proses belajar mengajar.  Untuk membuat persiapan pendidikan dan pelatihan Diklat perlu mengadakan pertemuan dengan seluruh penatar. Kita tidak boleh erasumsi bahwa silabi sudah cukup memadai untuk pegangan menyampaikan materi. Pertemuan dengan seluruh Widyaiswara pada dasarnya untuk mencegah terlalu jauh menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Koordinasi di antara adanya pertemuan bersama semua gerak langkah terkoordinasi dengan baik. Dalam hal seperti ini perlu sikap hati-hati dalam membuat suatu asumsi seperti yang disarankan oleh Michael W. Apple (1995:153), “We should cautions of technical solutions to political problems. We should cautions about fine-sounding words that may not take account of daily lives of the people who work in this institutions
Evaluasi atau penilaian dilakukan pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan, Termasuk didalamya Kelengkapan Sarana dan Prasarana serta kesiapan tenaga penyelenggara  sebagai bagian penting keberhasilan.   Dengan evaluasi dapat diketahui bagian mana  yang dapat dikembangkan terutama yang masih lemah. Evaluasi juga dapat mengetahui faktor penyebab kelemahan dalam proses belajar mengajar kemudian diupayakan menemukan cara pemecahannya, bukan evaluasi penyelenggaraan Pelatihan dan penilaian Instruktur/Widyaiswara yang hanya sekedar mengisi balanko  rutinitas belaka tanpa ada tindak lanjutnya.
- Mengoptimalkan komunikasi utk meningkatkan pemahaman dan   sosialisasi program diklat. Komunikasi yang perlu  ditingkatkan meliputi komunikasi internal diklat dan mitra kerja sangat dibutuhkan untuk  meningkatkan pemahaman  dan menjamin semua perencanaan, perubahan program diklat segera tersampaikan sehingga bila ada perubahan baik indek pembiayaan, program  yang berubah, bisa disesuaikan dengan anggaran dan progam kerja mitra yang terkait

 2.3.5. Memaksimalkan kinerja lembaga diklat dalam  hal peningkatan   kualitas pelayanan.
 Di era sekarang ini suatu lembaga dikatakan profesional dengan mudah bisa dilihat dengan kasat mata seberapa berkualitasnya pelayanan  pengelola lembaga. 
2.3.6.Membangun budaya kerja efektif (belajar cepat, hasil maksimal).












III.  KESIMPULAN
Pengembangan sumber daya manusia akan berjalan dengan efektif  bila organisasi penyelenggaraan mengelolanya secara profesional. Salah satu upaya engembangan SDM adalah pendidikan dan pelatihan. Untuk melaksanakan pendidikan dan  pelatihan diperlukan suatu strategi. Strategi yang dapat ditempuh tetap mengacu pada mutu, di mana produk akhir diukur dan memenuhi standard tertentu. Standard bagi personil diukur dari kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan jenjang jabatan structural maupun fungsinal atau keterampilan tehnis  tertentu. Mutu yang akan ditingkatkan adalah mutu unjuk kerja personil agar mereka lebih produktif dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggungjawabnya sekarang atau untuk masa yang akan datang.
Upaya perbaikan mutu oleh pengelola Diklat adalah unjuk kerja yang tuntas perlu dilakukan secara terus menerus, mulai dari mengkaji mutu unjuk kerja, melaksanakan strategi pendidikan dan pelatihan, mengevaluasi dan membina mutu unjuk kerja setelah selesai pendidikan dan pelatihan (Evaluasi Pasca Latihan). Dalam mengkaji mutu unjuk kerja personil lakukan kegiatan identifikasi mutu unjuk kerja personil dengan instrumen yang valid dan reliabilitasnya telah teruji, membuat kebijakan dan prioritas, menentukan program yang ditempuh.
 Pengelola Lembaga pendidikan yang bertugas meningkatkan mutu unjuk kerja personil seyogyanya mempertimbangkan hasil kajian mutu unjuk kerja personil yang telah diperoleh, sebagai bahan pengayaan kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah koheren yang secara substantif mensikronisasikan kebutuhan individu dengan kebutuhan organisasi sebagai tujuan yang akan dicapai. Kurikulum, proses pendidikan dan pelatihan, dan evaluasi selama proses Diklat berlangsung hingga Evaluasi pascadiklat merupakan suatu sistem yang harus direncanakan secara strategis, sehingga dalam pelaksanaan tidak banyak mengalami benturan dan hambatan. fasilitator/Widyaiswara  dan peserta merupakan komponen yang sangat menentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmara, U. Husna, 1995, Permasalahan Sumberdaya Aparatur : Tinjauan dari Aspek Pendidikan dan Pelatihan, Pontianak, LAN dan Pemda Kalbar.
Hersey ,Paul and Blanchard, Kennet.H, 1980, Management of Organizational Behavior, Utilizing Human Resources, New`Delhi , Prentice Hall of India Private Limited .
Hunger,J. David dan Wheelen, Thomas L, 1993, Strategic
Judge, Timothy A & Robert D Bretz ,1994, Political Influence Behavior and Career Success, Journal of Management 20(1).
Mintzberg, Henry and Brian Quinn James, 1992,The Stategy Process, Concepts and Contexts, New Jersey USA, Prentice Hall Inc.
Nawawi, Hadari, 2001, Manajemen Sumberdaya Manusia, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.

Nursanti, T.Desy, 2002, Strategi Teintegrasi Dalam Perencanaan SDM , dalam Usmara, A (ed), Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, Amara books.